RSS

Menghadap Kiblat Dalam Perspektif Rifa'iyyah



BAB I PENDAHULUAN

Rifa’iyah merupakan  nama dari salah satu gerakan keagamaan yang di pelopori oleh KH. Ahmad Rifa’i, seorang kyai yang berasal dari Kalisalak Batang Jawa Tengah pada awal abad ke 19. Ajaran KH. Ahmad Rifa’i ini dapat digolongkan dalam gerakan keagamaan dengan corak tradisional yang memiliki implikasi sosial. Ciri-ciri utamanya memiliki elemen-elemen seperti loyalitas lokal, hubungan kekerabatan dan hubungan berdasarkan status tradisional.[1]
KH. Ahmad Rifa’i dibesarkan dalam lingkungan yang sangat agamis. Beliau banyak belajar tentang ilmu-ilmu yang berkaitan dengan bahasa Arab, baik ketika masih berada di pesantren Kaliwungu maupun ketika berada di Mekkah. Sekembalinya dari Mekkah, beliau banyak melakukan penerjemahan kitab-kitab berbahasa Arab ke dalam bahasa Jawa  yang kemudian di sebut dengan Tarajumah.[2] Ketika belajar di Mekkah, salah satu diantara guru beliau yakni Isa Al-Barawi[3] yang merupakan bagian dari ulama Syafi’iyah,  sehingga dalam bidang Fiqh, KH.Ahmad Rifa’I menyatakan dirinya sebagai pengikut madzhab Syafi’i (Syafi’iyah) sebagaimana tercantum dalam setiap bagian awal dari kitab yang di tulisnya. Sebagai contoh tertulis dalam kitab Ri’ayah Al-Himmah beliau mengatakan:
Ikilah bab nyataaken tinemune
Ing dalem ilmu fiqh ibadah wicarane
Atas madzhab Syafi’i panutane
Ahli mujtahid mutlak kaderajatane[4]
Meskipun gerakan Rifa’iyah merupakan pengikut madzhab syafi’i (Syafi’iyah) akan tetapi terdapat kontroversi pandangan dalam beberapa hal, seperti dalam bidang Tauhid, pengakuan dan pedoman mereka hanya rukun Islam yang pertama saja. Namun dalam mengajarkan pada masyarakat masih menggunakan kitab-kitab Syafi’iyah.
Berdasarkan penjelasan tersebut, Rifa’iyah merupakan pengikut madzhab Syafi’i (Syafi’iyah) dan tidak ada kontroversi pendapat antara Rifa’iyah dan Syafi’iyah mengenai mekanisme penentuan arah kiblat, sehingga dalam pembahasan makalah ini, penyusun lebih cenderung kepada mekanisme penentuan arah kiblat menurut Syafi’iyah.

BAB II MENGHADAP KIBLAT DALAM PERSPEKTIF RIFA’IYAH
  1. DEFINISI KIBLAT DAN LANDASAN NORMATIF MENGHADAP KIBLAT
 Seperti telah dijelaskan dalam makalah-makalah sebelumnya, kiblat merupakan arah atau posisi dimana umat Islam diwajibkan menghadap kepadanya ketika menjalankan ibadah, terutama shalat.
Pada dasarnya  tidak terdapat perbedaan dalam masalah kiblat sebagai syarat sahnya shalat (Lihat At Tadzhib fi Adillati Matnil Ghoyat wa At Taqrib – Matni Abi Syuja’, hal. 52, Darul Fikri dan Al Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitab Al ‘Aziz, hal. 82, Dar Ibnu Rojab),
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,
فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ
Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. Al Baqarah: 144)
Adapun hadis Nabi saw. yang secara tegas menyebutkan kewajiban menghadap kiblat pada saat salat adalah :
1. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim :
   عن ابى هريرة ر.ع . قال : قال النبى ص.م. : اذا قمت الى الصلاة فاسبغ الوضوء ثم استقبل القبلة وكبر
  Artinya : “Dari Abu Hurairah r.a.  Nabi saw bersabda: bila  hendak salat maka sempurnakanlah wudu, lalu menghadaplah ke kiblat kemudian takbir.
2. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim :
   عن  ا نس بن مالك رع قال : ان رسو ل الله ص م كان يصلى نحو  ا تبيت المقدس فنزلت : قد نرى تقلب وجهك في السماء فلنولينك قبلة ترضاها فول وجهك شطر المسجد الحرام. فمر رجل من بنى سلمة وهم ركوع فى صلاة الفجر وقد صلوا ركعة ، فنادى الا انالقبلة قد حولت فمالوا كما هم نحو القبلة
Artinya : “  Dari Anas bin Malik r.a bahwa Rasulullah SAW (pada suatu hari) sedang salat menghadap ke Baitul Maqdis, kemudian turunlah ayat “ Sungguh kami melihat mukamu menengadah ke langit (sering melihat ke langit berdo’a agar turun wahyu yang memerintahkan berpaling ke Baitullah). Sungguh kami palingkan mukamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram”. Kemudian ada orang dari Bani Salamah sedang melakukan ruku’pada salat fajar pada raka’at kedua. Lalu Nabi menyeru “Ingatlah bahwa kiblat telah diubah”. Lalu, mereka berpaling ke arah kiblat (Baitullah)
Perbedaan pendapat tentang masalah kiblat hanya terdapat pada ketentuan menghadap kiblat bagi umat Islam yang tidak dapat melihat ka’bah secara langsung.
B.     KONSEP MENGHADAP KIBLAT
Jumhur ulama sepakat bahwa menghadap kiblat merupakan salah satu syarat sahnya shalat dan bagi orang yang dapat melihat ka’bah maka wajib baginya menghadap kiblat secara langsung ( ainul ka’bah). Sedang dalam masalah ketentuan menghadap kiblat bagi orang yang jauh atau tidak dapat melihat ka’bah, Syafi’iyah berbeda pendapat dengan yang lain. Syafi’iyah menyatakan meski berada jauh dari Mekah tetap diwajibkan mengarah ke bangunan Ka'bah persis dsan tidak cukup menghadap ke arahnya saja, dengan alasan Firman Allah S.w.t.;
وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ
Lebih jauh Syafi’iyah menyatakan berpalingnya arah kiblat meski sedikit saja (al inhiraf al yasir) membawa konsekusensi pada batalnya shalat. Jadi berdasar pendapat tersebut bila arah ka’bah misalnya berada di arah barat kemudian bergeser 10 derajat ke arah utara, maka kita harus menghadap ke arah tersebut.
Menurut pendapat Syafi’iyah ini, mereka mengatakan bahwa yang dimaksud ayat:
وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ
Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke ka’bah.” (QS. Al Baqarah: 144)
 yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah ka’bah. Jadi seseorang harus menghadap ke ka’bah persis. Dan tafsiran mereka ini dikuatkan dengan hadits muttafaqun ‘alaih bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat dua raka’at di depan ka’bah, lalu beliau bersabda,
هَذِهِ الْقِبْلَةُ
“Inilah arah kiblat.” (HR. Bukhari no. 398 dan Muslim no. 1330).
 Karena dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa inilah kiblat. Dan ini menunjukkan pembatasan, sehingga tidak boleh menghadap ke arah lainnya. Oleh karena itu, menurut pendapat Syafi’iyah, bahwa yang dimaksud dengan surat Al Baqarah di atas adalah perintah menghadap persis ke arah ka’bah. Bahkan menurut ulama-ulama tersebut, yang namanya perintah menghadap ke arah kiblat berarti adalah menghadap ke arah kiblat persis dan ini sesuai dengan kaedah bahasa Arab.[5]
Dalil lain yang dikemukakan oleh Syafi’iyah sebagaimana dikemukakan oleh Imam al-Syafi’i adalah orang yang wajib menghadap kiblat dalam salatnya  berarti wajib menghadap fisik ka’bah ( ain al-ka’bah) sebagaimana penduduk Makkah. Juga berdasarkan ayat 150 surat al-Baqarah yang mewajibkan kita untuk menghadap ka’bah yang berarti wajib menghadap fisik ka’bah sebagaimana orang yang dapat melihat ka’bah secara langsung.
الشافعية قالوا : مراتب القبلة اربعة : المرتبة الاولى: ان يعلم بنفسه, فمن امكنه ان يعرف  القبلة بنفسه فانه يجب عليه ان يعرفها بنفسه ولا يسأل عنها احدا. فالاعمى الموجود فى المسجد اذا كان يمكنه مس حئط المسجد ليعرف القبلة, فانه يجب عليه ان يفعل ذالك, ولا يسأل احدا,المرتبة الثانية : ان يسأل  ثقة عالما بالقبلة, بحيث يعرف ان الكعبة موجودة فى هذه الجهة, وقد عرفت عن سؤل الثقة انما يكون عند العجز عن معرفتها بنفسه طبعا و الا فلا يصح له السؤال, ويقوم مقام الثقة بيت الابرة -البوصلة-  و نحوها من الآلات التى يمكن ان يعرف بها القبلة, كنجم القطب, والشمس, والقمر, والمحاريب الموجودة فى بلد كبير من بلاد المسلمين, او موجودة فى بلد صغير, لكن يصلى اليه كثير من الناس.
والحاصل ان المرتبة الثانية من مراتب معرفة القبلة تشتمل على سؤال الثقة, او بيت الابرة او القطب, او المحاريب, سواء كانت محاريب المساجد القديمة التي وضعها الصحابة و التابعون او غيرها من المحاريب التي تكثر الصلاة اليها, اما المحاريب التي توجد فى المصلى الصغيرة التى يستعملها بعض الناس فى الطرق والمزارع ونحوهما, فانها لا تعتبر, المرتبة الثالثة : الاجتهاد, والاجتهاد لا يصح الا اذا لم يجد ثقة يسأله, او لم يجد وسيلة من الوسائل التى يعرف بها القبلة, او لم يجد محرابا فى مسجد كبير او فى مسجد صغير مطروق من الناس, فاذا فقد كل ذالك, فانه يجتهد وما يؤديه اليه اجتهاده يكون قبلته. ولو اجتهد للظهر مثلا ثم نسي الجهة التى اجتهد اليها فى العصر, فانه يجدد الاجتهاد ثانيا, المرتبة الرابعة : تقليد المجتهد, بمعنى انه اذا لم يستطع ان يعرف القبلة بسؤال الثقة ولا بمحراب ولا بغيره, فان له ان يقلد شخصا اجتهد فى معرفة القبلة و صلى الى جهتها. فهو يصلى مثله.[6]
Pendapat ulama syafi’iyah tentang urutan penentuan arah kiblat itu ada 4, antara lain:
1.      Menetapkan kiblat sendiri , bagi orang yang mungkin mengetahuinya sendiri dan mempunyai ilmu untuk mengetahuinya maka wajib baginya menentukan kiblat sendiri tanpa bertanya pada orang lain. Bahkan bagi orang yang tidak bisa melihat pun selagi mungkin ia bisa memegang tembok mesjid untuk mengetahui arah kiblat maka wajib baginya melakukan hal tersebut terlebih dahulu tanpa bertanya kepada orang lain.
2.       Bertanya pada orang yang dapat dipercaya (tsiqoh) lagi ahli dalam menentukan arah kiblat. Maksud tsiqoh disini adalah orang yang benar-benar mengetahui arah kiblat dengan adanya pembuktian melalui perhitungan atau observasi dengan menggunakan alat-alat yang menunjang penelitian tersebut.
3.      ijtihad. Ijtihad ini tidak dibenarkan kecuali tidak terdapat orang yang tsiqoh sebagai tempat bertanya atau tidak ditemukan perantara (alat-alat) untuk mengetahui arah kiblat tersebut. Karena hal tersebut, maka diperbolehkan melakukan ijtihad. Dan hasil yang diyakini dari hasil ijtihad tersebut, maka itulah yang menjadi kiblatnya.
4.      taqlid terhadap pendapat mujtahid. Taqlid dalam hal ini berarti apabila orang tersebut benar-benar tidak mempunyai pengetahuan tentang cara menentukan arah kiblat dan tidak menemukan orang yang tsiqoh serta tidak menemukan alat-alat untuk observasi. Selain itu juga apabila orang tersebut benar-benar tidak mampu berijtihad.
الشافعية قالوا: اذا اجتهد فى معرفة القبلة, فلم يرجح جهة على اخرى فانه فى هذه الحالة يصلى الى اي جهة شاء, كما يقول الائمة الثلاثة الا انه تجب عليه اعادة تلك الصلاة خلافا لهم
الشافعية قالوا: ان تبين له فى اثناء الصلاة انه اخطأ يقينا بطلت صلاته واستأنفها بلا تفصيل بين اعمى و مبصر اما اذا ظن انه اخطأ فلا تبطل صلاته, ولا يقطعها مثلا اذا دخل فى الصلاة بعد اجتهاده ثم اخبره ثقة يعرف القبله عن معينه بانه غير مستقبل القبلة فان صلاته تبطل ولا ينفعه اجتهاده الاول سواء كان اعمى او بصيرا.
الشافعية قالوا: اذا اجتهد و صلى الى جهة اجتهاده حتى اتم صلاته ثم ظهر له بعد تمام الصلاة انه اخطأ القبلة يقينا فان صلاته تبطل و تلزمه اعادتها الا اذا ظن انه اخطأ فانه لا يضر[7]
 Syafi’iyah berpendapat pula bahwa apabila seseorang telah berijtihad tentang menghadap kiblat dan tidak ada ijtihad yang diunggulkan, maka boleh menghadap kearah mana saja yang dikehendaki ketika shalat, akan tetapi wajib mengulang shalatnya jika telah ditetapkan arah kiblatnya.
Namun, ketika seseorang yang dalam keadaan shalatnya benar-benar yakin bahwa arah kiblatnya salah, maka shalatnya menjadi batal. Sedang apabila seseorang yang dalam keadaan shalatnya hanya ragu terhadap arah kiblatnya, maka shalatnya tidak batal. Kemudian apabila ketika telah selesai shalat  dengan menghadap kiblat berdasar hasil ijtihad, lalu seorang tsiqoh memberitahukan bahwa shalatnya tidak menghadap kiblat maka shalatnya batal. Dalam hal ini tidak terdapat perbedaan hukum bagi orang yang buta dan dapat melihat.
(وخامسها : استقبال القبلة) اى الكعبة, والواجب فى الاستقبال اصابة عين القبلة يقينا مع القرب اما برؤيته لها او مسها بيده او نحو ذالك مما يفيد اليقين او ظنا مع البعد فلا يكفى اصابة الجهة مع الخروج عن اسئقبال عينها, فلو امتد صف بقرب الكعبة و خرج بعض المصلين عن مجاذة  عينها لم تصح صلاته, واما فى حالة البعد عنها فلا يضرّ طول الصف فانهم لا يخرجون عن محتذاتها ولوطال الصف لأن صغير الحجم كلما    زاد محاذاته كغرض الرماة, و الاستقبال يكون بالصدر حقيقة فى حق القائم والجالس, وحكما فى الراكع والساجد ويكون بالوجه ومقدم البدن فى حق المضطجع, ويكون بالوجه والأخصمين فى حق المستلقى, فلا بد من رفع رأسه عن الأرض بنحو وسادة ليكون مستقبلا بوجهه, ومن وضع عقيبة بالأرض ليكون مستقبلا بأخمصيه, ويجتهد إن عجز عن العلم بالنفس وعن اخبار الثقة عن علم, فان عجز عن الاجتهاد قلد رب المنزل حينئذ. ولو اجتهد الشخص فى القبلة وصلى ثم تيقن الخطأ اعاد صلاته, و اما اذا لم يتيقن الخطأ بل تغير اجتهاده الى جهة اخرى. فان كان الاجتهاد الثانى ارجح وجب عليه العمل به سواء كان متلبسا بالصلاة ام لا, ولا يجب عليه اعادة ما صلاه بالاول لان الاجتهاد لا ينقد باجتهاد آخر حتى لو صلى اربع ركعات لأربع جهات باربع اجتهادات صح. فان كان الاجتهاد الثانى مساويا للاجتهاد الاول تخير بينهما إن لم يكن فى صلاة فان كان فيها تعين عليه العمل بالاجتهاد الاول, ولا يجوز له العمل بالاجتهاد الثانى لأنه التزم بدخوله فى الصلاة جهة, فلا يتحول عنها إلا الى ارجح منها, ومتى ثبت ان النبي صلى الله عليه و سلم اطلع على محراب واقره كان فى مرتبة العلم بالنفس فلا تجوز مخالفته ولا الاجتهاد فيه لا جهة ولا يمنة ولا يسرة.[8]
Seperti tersebut di atas terdapat perbedaan pendapat meski merupakan ulama Syafi’iyah. Perbedaan pendapat terletak pada pendapat dalam kitab ini yang menyatakan bahwa  bagi orang yang berada jauh dari ka’bah atau tidak dapat melihat ka’bah maka shalatnya hanya menghadap ke arah kiblat saja, tidak harus persis. Dalam hal ini terdapat tambahan pendapat bahwa bagi orang yang berada dekat dengan ka’bah atau dapat melihat ka’bah wajib shalat dengan menghadap persis ke arah ka’bah dan bagi jama’ah shalat di dekat ka’bah, shaf yang dibuat tidak boleh melebihi batas sudut ka’bah. Sedang untuk orang yang jauh dari ka’bah boleh melebihi batas tersebut dengan alasan bahwa semakin jauh jarak dari ka’bah maka semakin lebar sudut yang dibentuk. Dalam kitab ini terdapat penjelasan pula bahwa bagi orang yang shalat di dekat ka’bah dengan berdiri dan duduk wajib menghadapkan dadanya ke arah ka’bah, sedang bagi orang yang shalat dengan berbaring cukup dengan menghadapkan wajah dan badannya ke arah ka’bah.
C.     KERINGANAN BAGI ORANG YANG TIDAK DAPAT MENGHADAP KIBLAT
Syafi’iyah berpendapat bahwa terdapat keringanan bagi orang yang tidak dapat menghadap kiblat dengan adanya alasan-alasan tertentu. Pendapat ini disebutkan Dalam Matan Al Ghoyat wat Taqrib (kitab Fiqih Syafi’iyyah), Abu Syuja’ rahimahullah mengatakan, “Ada dua keadaan seseorang boleh tidak menghadap kiblat : [1] Ketika keadaan sangat takut dan [2] Ketika shalat sunnah di atas kendaraan ketika safar.”
Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,
رُكْبَانًا أَوْ فَرِجَالًا خِفْتُمْ فَإِنْ
Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan dengan cara yang mudah bagi kalian, bisa dengan berjalan atau dengan menaiki kendaraan.
لوكان راكبا اشترط ان لا يستدبرها فى حال نزوله فان استدبرها حينئذ بطلت صلاته باتفاق,  ومثل فى شدة الخوف فى ذالك دفع الصائل والفرار من سبع او نار او عدو او سيل او نحو ذالك مما يباح الفرار منه, لكن ان امن فى اثنائها وجب عليه الاستقبال ولا يعود الى مكانه الاول بل يتمها فى المكان الذى انتهى سيره اليه. و مثل ذالك من خطف متاعه او شردت دابته وهو فى الصلاة فله السعي خلف ذالك لتحصيله, وكما يباح لهؤلاء ترك الاستقبال يغتفر لهم الافعال الكثيرة اذا اقتصروا على قدر الحاجة[9] 
Seperti dalam keterangan di atas bahwa bagi orang yang berada di atas kendaraan boleh tidak menghadap kiblat dengan syarat tidak membelakanginya. Karena apabila membelakangi kiblat, maka shalatnya tidak sah. Sedangkan bagi orang yang dalam keadaan takut, seperti untuk menghindari ancaman musuh, binatang buas, kebakaran, dan sebagainya diperbolehkan lari dari tempat shalat itu kemudian menyempurnakan shalatnya di tempat yang sudah aman.
Ibnu Umar berkata,
وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يُسَبِّحُ عَلَى الرَّاحِلَةِ قِبَلَ أَىِّ وَجْهٍ تَوَجَّهَ ، وَيُوتِرُ عَلَيْهَا ، غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يُصَلِّى عَلَيْهَا الْمَكْتُوبَةَ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat sunnah di atas kendaraan dengan menghadap arah yang dituju kendaraan dan juga beliau melaksanakan witir di atasnya. Dan beliau tidak pernah mengerjakan shalat wajib di atas kendaraan.” (HR. Bukhari no. 1098 dan Muslim no. 1652)[10]  Adapun perjalanan yang mendapatkan keringanan tersebut harus memenuhi  9 syarat  seperti dijelaskan pada matan Abu abdul mu’thi Muhammad bin umar bin ali nawawi, Nihayah al-zain fi al irsyad al mubtadiin, syarh ala quratil’ain bimuhimmatiddin fi alfiqh ala madzhab al imam as syafi’i, dar al fikr hal. 53-54
(و نفل سفر مباح وذلك مشروط بامور تسعة:  احدها: ان  يكون ذالك فيما يسمى سفرا ولو قصيرا. ثانيها : ان يكون السفر مباحاز ثالثها: ان يقصد قطع المسافة المسمى قطعها سفرا. رابعها: ترك الافعال الفاحشة: كركض و عدو بلا حاجة. خامسها: دوام السفر فلو صار مقيما فى اثناء السفر لزمه الاستقبال ان استمر فيها, والا فقطع النفل جائز. سادسها: دوام السير, فلو انقطع سيره لم يجز له ترك الاستقبال حتى لو وقف لاستراحة او لانتظار رفقة لزمه الاستقبال ما دام واقفا, فان سار لاجل سير القافلة اتمها الى جهة مقصده, وان سار مختارا للسير بلا ضرورة لم يجز ان يسير حتى تنتهى صلاته ان اراد الاستمرار فيها. سابعها: عدم وطئ النجاسة عمدا مطلقا, و كذا نسيانا فى نجاسة رطبة غير معفو عنها, ولو بالت دابته او رائت او وطئت نجاسة بنفسها او اوطأها اياها لم يضر لانه لم يلاقها و ذالك حيث لم يكن زمامها بيده . ثامنها: ان يكون السفر ميلا فاكثر. تاسعها: ان يكون لغرض صحيح, و قولهم يتوجه الى جهة مقصده يفيد انه لا يجب استقبال عين مقصده, بل يكفى التوجه الى جهته ولا ينحرف عن جهة مقصده الا الى القبلة لانها الاصل, فلو انحرف الى غيرها عامدا عالما بطلت صلاته ولو قصر الزمن, اما اذا كان خطأ او نسيانا او لجماح الدابة فان طال الزمن بطلت و الا فلا, لكن يسن ان يسجد للسهو لان عمد ذالك مبطل وهذا هو المعتمد (و على ما شا اتمام ركوع و سجود و استقبال فيهما و فى تحرم)[11]

BAB III KESIMPULAN
Dari paparan yang telah dijelaskan, dapat diambil kesimpulan bahwa penentuan arah kiblat atau konsep menghadap kiblat menurut kalangan Rifa’iyah berdasar pada konsep menghadap kiblat perspektif Syafi’iyah, karena sampai saat ini belum terdapat konsep menghadap kiblat menurut kalangan Rifa’iyah sendiri. Sehingga dapat dikemukakan bahwa konsep menghadap kiblat menurut Rifa’iyah yaitu bagi orang yang berada dekat denagan ka’bah atau dapat melihat ka’bah, maka wajib baginya untuk shalat dengan menghadap persis ke arah kiblat. Hal ini berlaku pula bagi orang yang berada jauh dari ka’bah atau tidak dapat melihat ka’bah dengan tidak membedakan konsep tersebut bagi orang yang buta maupun orang yang dapat melihat.
Pengecualian dari konsep tersebut adalah adanya rukhsoh bagi orang yang sedang dalam keadaan takut dan dalam perjalanan yaitu dengan tidak diwajibkannya mereka untuk menghadap kiblat.
BAB IV PENUTUP
Ibarat kata pepatah ”tiada gading yang tak retak, kalau tak retak bukan gadinglah namanya” begitu pula keadaan dalam penyusunan makalah ini. Tentu banyak kekurangan yang ditemukan dari berbagai segi pengamatan. Oleh karena itu, penyusun sangat mengharap kritik dan saran yang konstruktif untuk perbaikan makalah ini menuju segi sempurna.
DAFTAR PUSTAKA
Abi syuja, at tadzhib fi adillati matnil ghoyat  wa at taqrib: al wajiz fi fiqhis sunnah wal kitab al aziz, Dar ibnu Rojab
Al-Juzairi, Abdur Rahman. Madzahibul Arba’ah Juz I, maktabah Al-’Asriyah, Beirut Lebanon
Djamil, Abdul DR. Perlawanan Kiai Desa : Pemikiran Gerakan Islam KH. Ahmad Rifa’i Kalisalak, Yogyakarta: LkiS 2001.
Nawawi, Abu Abdil Mu’ti Muhammad bin Umar bin Ali, Nihayatu Az-Zain fi Al-Irsyad Al-Mubtadiin: Syarh ’ala Qurratul ’bi muhimmat ad-din, Dar al-fikr





[1] Dr. Abdul Djamil, perlawanan kiai  desa: pemikiran dan gerakan islam KH. Ahmad Rifa’i Kalisalak, hal. Xi (Yogyakarta: LkiS,2001)
[2] Kitab-kitab yang ditulis KH. Ahmad Rifa’i. Disebut orang dengan nama tarajumah yang artinya terjemahan dari kitab-kitab berbahasa Arab sebutan ini juga pada para santri yang mengaji kitab tersebut dengan sebutan santri tarajumah
[3] Nama lengkapnya adalah Isa bin Ahmad bin Isa bin Muhammad Az-Zubairi As-Syafi’i Al-Qahiri Al-Azhari. Di kenal dengan nama Al-Barawi seorang ahli Hadist dan Fiqh
[4] Ahmad Rifa’I, Ri’ayah Al-Himmah, hal.120
[5] Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah, juz 2 hal.1119 dan Nailul Author, juz 3 hal.253
[6]Abdur rahman al juzairi, al fiqh ‘ala al madzahib al arba’ah, juz I, hal. 198
[7] Ibid, hal 199-200
[8]Abu abdul mu’thi Muhammad bin umar bin ali nawawi, Nihayah al-zain fi al irsyad al mubtadiin, syarh ala quratil’ain bimuhimmatiddin fi alfiqh ala madzhab al imam as syafi’i, dar al fikr
[9] Abu abdul mu’thi Muhammad bin umar bin ali nawawi, Nihayah al-zain fi al irsyad al mubtadiin, syarh ala quratil’ain bimuhimmatiddin fi alfiqh ala madzhab al imam as syafi’i, dar al fikr hal. 53 
[10]  Lihat At Tadzhib fi Adillati Matnil Ghoyat wa At Taqrib – Matni Abi Syuja’, hal. 53 dan Al Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitab Al ‘Aziz, hal. 82-83, Dar Ibnu Rojab
[11] Ibid hal 53-54

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar